Skip to content

Ilham dan Mimpi

19 Maret 2011

Di dalam Fathul Ghuyub hal. 21 disebutkan bahwa beliau rahimahullah berkata, “Sirnakanlah kegelapan (kedzaliman) dengan cahaya lentera, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bila terbersit di dalam hatimu sesuatu atau datang kepadamu suatu ilham, maka timbanglah semua itu dengan Qur’an dan Sunnah. Bila kamu mendapati di dalam Qur’an dan Sunnah perkara itu telah diharamkan, seperti zina, riya’, bergaul dengan orang-orang fasik dan dzalim serta yang semisal dengan itu dari perbuatan dosa dan maksiat, maka janganlah kamu terima hal itu dan jangan kamu kerjakan, dan pastikanlah bahwa itu datangnya dari setan yang terlaknat.”

 

Dari keterangan tsb kita menjadi tahu bahwa Syaikh tidak membolehkan kita untuk langsung percaya kepada ilham atau mimpi atau selainnya (termasuk di dalamnya cerita-cerita khurofat yang tidak jelas asal-usulnya), tetapi hendaklah kita ukur terlebih dahulu akan kebenarannya menurut dalil-dalil Qur’an dan Sunnah.

 

Syaikh pernah bermimpi melihat sebuah singgasana besar yang di atasnya ada cahaya, kemudian ada suara yang memanggilnya, “Wahai Abdul Qadir! Ini aku tuhanmu, dan TELAH AKU HALALKAN UNTUKMU PERKARA-PERKARA YANG AKU HARAMKAN ATAS SELAINMU“(?!) Maka aku (Syaikh Abdul Qadir) mengatakan kepadanya, “Apakah engkau adalah Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah dengan benar melainkanmu?! Pergilah wahai musuh Allah!” Maka cahaya itupun pecah dan berubah menjadi kegelapan. Dan dikatakan kepadaku (Syaikh Abdul Qadir Jilany), “Wahai Abdul Qadir! Engkau telah selamat lantaran ilmu yang ada padamu. Padahal aku TELAH MENYESATKAN 70 ORANG ALIM DENGAN CARA INI.” Ada orang yang bertanya kepada Syaikh, “Darimana engkau tahu jika itu adalah syaithan?” Jawab beliau, “Dari perkataannya, ‘TELAH AKU HALALKAN UNTUKMU PERKARA-PERKARA YANG AKU HARAMKAN ATAS SELAINMU, padahal syariat yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak dapat dihapus lagi.” [Majmu Fatawa (I/172) dan Dzail Thaqatil Hanabilah (I/294)]

 

Dikutip dari “Wasiat Emas dan Aqidah Syaikh Abdul Qadir al Jilany Rahimahullah” oleh Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, hal 38-39

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: