Skip to content

BETONISASI JALAN K. SAPON-NGGILI

Betonisasi Jalan Desa K. Sapon-Nggili di Desa Sidorejo Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak dikerjakan ini dengan konstruksi Beton bertulang K225, tebal beton 0,15m lebar 3 meter panjang 204m.
Nomor dan Tanggal Kontrak : 620/CK/SP/RS-5/PL.7/VIII/2011 tanggal 15 Agustus 2011
Nomor dan Tanggal SPMK : 620/CK/SPMK/RS-5/PL.7/VIII/2011 tanggal 15 Agustus 2011
Nilai Kontrak : Rp. 49,895,000.00 (Empat Puluh Sembilan Juta Delapan Ratu100ms Sembilan Puluh Lima Ribu Rupiah)

 

Pembangunan Ruang kelas Baru SMP Negeri 1 Tegowanu Grobogan

Pembangunan Ruang Kelas Baru ini didirikan diatas tanah sawah milik SMP Negeri 1 tegowanu grobogan dengan luas total bangunan 9 x 9 meter dan memakai dana DAK dan pendamping APBD grobogan tahun 2011 sebesar Rp. 90 juta

Pembangunan Ruang Kelas Baru SMP Satu Atap Penadaran Gubug Kabupaten Grobogan

Lokasi yang jauh dari pusat Pemerintah Kabupaten Grobogan dengan jalan masih berupa tatanan bebatuan yang belum tersentuh aspal maupun beton merupakan ciri khas jalan masuk desa diperbukitan ini.

Dengan harapan mendapatkan pendidikan yang merata hingga ke pelosok desa, maka Pemerintah kabupaten Grobogan membangun gedung SMP satu atap di tanah milik desa (bengkok lurah).

Pembangunan RKB ini didanai dengan DAK tahun 2011 senilai Rp. 90 juta

 

CARA MENDIRIKAN YAYASAN/LSM/PKBM/KURSUS

June 17, 2008 by husyap

Sekedar membagi informasi aja karena sudah beberapa bulan ini penulis sedikit banyak tahu mengenai seluk beluk pengurusan suatu lembaga, baik itu berupa lembaga sosial atau yang lainnya, dan ini tidak hanya bergerak dalam satu bidang aja tapi dibeberapa bidang, keuntungan dengan adanya legalitas lembaga suatu kegiatan akan terfokus, terarah, dan dapat mencapai misi dan visinya, legalitas suatu badan akan mempunyai nilai plus tersendiri, baik itu dimata kolega maupun lembaga yang lain yang menjadi mitra kerjanya, oleh kerena itu sekiranya kita dapat membagi atau share bagi siapa yang ingin membangun suatu lembag, untuk mendirikan suatu yayasan atau lembaga yang lain memerlukan beberapa persyaratan, diantaranya :

YAYASAN/LSM

Ada Dewan Pembina minimal 1 orang

Dewan Pengawas Minimal 1 orang

Ada pengurus harian yang terdiri dari ketua, bendahara dan sekretaris

Photo Copy KTP semua anggota Yayasan/LSM

Surat Domisili Lembaga dari Kepala Desa Setempat

(Semua ini dibawa ke Notaris)

Notaris akan membuat copian Akta untuk persyaratan Pembuatan NPWP (peryaratan sama dengan diatas)

Pengesahan ke DEPKUMHAM Jakarta (Setahun baru keluar) oleh Notaris,

Untuk biaya pembuatanb Akta Notaris sekitar Rp. 300.000,-

Untuk biaya pengurusan ke Jakarta relative tergantung negonya ama Notaris biasanya 2 juta keatas

Catatan :

Tapi selama menunggu pengesahan dari Depkumham, lembaga sudah dianggap legal karena telah memiliki akte Notaris.

Segera untuk melengkapi legalitas lembaga dengan membuat AD/ART lembaga, Formatur Lengkap, Struktur Lembaga, Pengurusan Rekening Lembaga, Stempel Lembaga, dll.

LEMBAGA KURSUS, PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)/TBM (Taman Belajar Masyarakat), PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), DLL

Ada Dewan Pembina minimal 1 orang

Dewan Pengawas Minimal 1 orang

Ada pengurus harian yang terdiri dari ketua, bendahara dan sekretaris

Photo Copy KTP semua anggota Yayasan/LSM

Surat Domisili Lembaga dari Kepala Desa Setempat

(Semua ini dibawa ke Notaris)

LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM)

Lembaga swadaya masyarakat (disingkat LSM) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya.

Organisasi ini dalam terjemahan harfiahnya dari Bahasa Inggris dikenal juga sebagai Organisasi non pemerintah (disingkat ornop atau ONP (Bahasa Inggris: non-governmental organization; NGO).

Organisasi tersebut bukan menjadi bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara. Maka secara garis besar organisasi non pemerintah dapat di lihat dengan ciri sbb :

  • Organisasi ini bukan bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara
  • Dalam melakukan kegiatan tidak bertujuan untuk memperoleh keuntungan (nirlaba)
  • Kegiatan dilakukan untuk kepentingan masyarakat umum, tidak hanya untuk kepentingan para anggota seperti yang di lakukan koperasi ataupun organisasi profesi

Berdasarkan Undang-undang No.16 tahun 2001 tentang Yayasan, maka secara umum organisasi non pemerintah di indonesia berbentuk yayasan.

Jenis dan kategori LSM

Secara garis besar dari sekian banyak organisasi non pemerintah yang ada dapat di kategorikan sbb :

  • Organisasi donor, adalah organisasi non pemerintah yang memberikan dukungan biaya bagi kegiatan ornop lain.
  • Organisasi mitra pemerintah, adalah organisasi non pemerintah yang melakukan kegiatan dengan bermitra dengan pemerintah dalam menjalankan kegiatanya.
  • Organisasi profesional, adalah organisasi non pemerintah yang melakukan kegiatan berdasarkan kemampuan profesional tertentu seperti ornop pendidikan, ornop bantuan hukum, ornop jurnalisme, ornop kesehatan, ornop pengembangan ekonomi dll.
  • Organisasi oposisi, adalah organisasi non pemerintah yang melakukan kegiatan dengan memilih untuk menjadi penyeimbang dari kebijakan pemerintah. Ornop ini bertindak melakukan kritik dan pengawasan terhadap keberlangsungan kegiatan pemerintah

Sebuah laporan PBB tahun 1995 mengenai pemerintahan global memperkirakan ada sekitar 29.000 ONP internasional. Jumlah di tingkat nasional jauh lebih tinggi: Amerika Serikat memiliki kira-kira 2 juta ONP, kebanyakan dibentuk dalam 30 tahun terakhir. Russia memiliki 65.000 ONP. Lusinan dibentuk per harinya. Di Kenya, sekitar 240 NGO dibentuk setiap tahunnya.

Berbagi Demi Kehidupan yang Lebih Baik

Akuntabilitas Lembaga Swadaya Masyarakat: Beberapa Observasi

Januari 12, 2010

Ridwan al-Makassary

Pengantar

Lembaga Swadaya Masyarakat (selanjutnya disingkat LSM) sedang menuai kritikan tajam. Selama tiga hari, harian Kompas (16 April, 18 April dan 19 April 2007) menurunkan liputannya mengenai akuntabilitas Lembaga Swadaya Masyarakat. Bermula dari sebuah diskusi publik bertema ”Perlunya Mengaudit Agenda dan Sumber Dana Asing terhadap LSM yang merugikan Rakyat, Bangsa dan Negara” di Jakarta (14 April 2007), akuntabilitas LSM digugat.

Beberapa poin yang mengedepan dalam diskusi tersebut adalah perlunya mengontrol LSM dengan audit publik dan membuat peraturan setingkat Undang-Undang untuk mengatur tentang LSM sebagai pilar civil society. Ada juga polemik mengenai perlunya LSM membuka laporan keuangannya kepada publik jika memperoleh dana donor luar negeri. Selain itu, ada konstatasi bahwa partai politik lebih akuntabel dan transparan dari LSM. Bahkan, ada yang secara sarkastik menuding beberapa LSM hanya bermodalkan kliping koran, dll.

Berdasar pada liputan Kompas tersebut, penulis mencoba mendiskusikan gagasan dan praktik akuntabilitas LSM di Indonesia secara lebih berimbang. Bagian awal akan menjelaskan kerangka konseptual tentang transparansi dan akuntabilitas bagi LSM. Selanjutnya, akan mendeskripsikan sejarah pertumbuhan LSM di Indonesia, dan juga penyimpangan-penyimpangan aktivisme LSM. Bagian akhir akan menjelaskan model ideal akuntabilitas LSM.

Kerangka konseptual: Transparansi dan Akuntabilitas

Akuntabilitas, yang sering dipahami sebagai akuntabilitas demokratis, berakar di dalam pengetahuan, dan sebuah pemahaman terhadap kedua prinsip dasar demokrasi, yaitu, ajaran mengenai mayoritas dan pemerintahan oleh rakyat. Akuntabilitas berarti kewajiban dasar bagi sebuah badan (negara, bisnis, LSM) untuk memerhatikan masyarakat atau pemegang saham untuk mengetahui berbagai kegiatan dan prestasi mereka. Prinsip ini mejamin masyarakat untuk mengetahui siapa dan bagaimana keputusan sebuah badan ditetapkan dan alasan yang mendasarinya. Pada saat yang sama, prinsip transparansi merujuk pada sikap terbuka sebuah badan kepada masyarakat guna mendapatkan akses informasi yang benar, jujur dan adil, seraya tetap melindungi hak-hak dasar dan kerahasiaan sebuah badan yang bekerja.[1]

Karenanya, akuntabilitas tidak saja terkait dengan pelaporan keuangan, melainkan juga persoalan legitimasi. Karenanya, untuk mengukur derajat akuntabilitas LSM tidak cukup menyoroti persoalan teknis, seperti keuangan dan program, tetapi juga partisipasi, konsultasi dan proses demokratisasi internal LSM.[2]

Menurut Rustam Ibrahim, akuntabilitas LSM adalah proses yang menempatkan LSM bertanggung jawab secara terbuka atas apa yang diyakininya, apa yang dilakukan dan tidak dilakukannya kepada stake holder (kelompok sasaran, lembaga donor, sesama Ornop, pemerintah dan masyarakat luas). Akuntabilitas diwujudkan dalam bentuk pelaporan (reporting), pelibatan (involving) dan cepat tanggap (responding). Singkatnya, pelaporannya dengan cara transparan.[3]

Transparansi mengandung arti adanya keterbukaan dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Artinya, setiap aktivitas selalu bisa dibuktikan melalui data yang kuat, sah, dan akurat. Sedangkan akuntabilitas merupakan manifestasi rasa tanggung jawab yang menuntut pelaksanaan tugas yang telah diamanahkan dilaksanakan secara bertanggung jawab. Singkatnya, konsep yang terakhir sejalan dengan efisiensi dan efektifitas.[4]

Sejarah Pertumbuhan Masyarakat Sipil: Sebuah Overview

Gagasan civil society menguat pada dua dasawarsa terakhir, terutama sejak berhembusnya angin perubahan dan menguatnya gelombang demokratisasi dari daratan Amerika Latin dan Eropa Timur, yang menyapu berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Civil society, pada dasarnya, memiliki motivasi dasar untuk merestriksi absolutisme kekuasaan, meningkatkan kapasitas komunitas, mengurangi derajat negatif ekonomi pasar, dan menuntut akuntabilitas politik serta menaikkan mutu dan sifat inklusif dari tata kelola pemerintahan (good governance).[5]

Karenanya, intisari civil society adalah visi etik terhadap tatanan kehidupan sosial yang bertolak dari dua perspektif. Perspektif pertama, terbangun dari tradisi berpikir marxist, yang menekankan basis ide civil society berdasar pada ketegangan (tensions) antara perkembangan masyarakat dengan kenyataan yang diperhadapkan oleh negara. Tradisi ini berpandangan masyarakat sebagai sebuah entitas yang mampu mengatur dirinya sendiri dan memiliki hak dan kebebasan. Keadaan ini membutuhkan perlindungan dari represi negara. Perspektif kedua, memandang civil society sebagai sebuah tipe ideal di mana organisasi sosial berdiri sendiri dan merupakan institusi sukarela (voluntary association) serta bebas dari interferensi negara. Keberadaan civil society merupakan entitas yang berhadapan dengan negara dan sektor swasta.[6]

Kedua pandangan tersebut sejatinya memiliki muara yang sama, yaitu civil society dapat mengembangkan masyarakat yang lebih demokratis, menjunjung tinggi kemanusiaan (humanity) dan merealisasikan keadilan sosial (social justice). Dengan demikian, pentingnya civil society merupakan agenda masyarakat dunia sejak perang dingin (Cold War) berakhir sudah. Bahkan, terpatri keyakinan bahwa negara akan lebih demokratis jika civil society berkembang.

Tidak ada definisi yang tunggal mengenai civil society. AS Hikam secara eklektik mendefinisikan civil society sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisir dan bercirikan antara lain kesukarelaan, keswasembadaan dan keswadayaan. Kemandirian yang tinggi menghadapi negara dan keterikatan dengan norma atau nilai hukum yang diipanuti oleh warganya.[7]

Sebagai ruang politik, civil society merupakan arena yang dapat menjamin terselenggaranya perilaku, tindakan dan refleksi mandiri, yang tidak terkungkung oleh kondisi material, dan juga tidak terserap ke dalam jaringan kelembagaan politik resmi. Berpegang pada penilaian seperti ini, maka civil society mengejawantah ke dalam pelbagai organisasi/asosiasi yang dibentuk oleh masyarakat di luar pengaruh negara. Karenanya, Organisasi non pemerintah (ornop), organisasi sosial dan keagamaan, paguyuban, dan juga kelompok kepentingan merupakan penjelmaan kelembagaan civil society.

Gerakan ornop, atau lebih populer dengan LSM di Indonesia, pada dasarnya juga terbentuk sebagai pengimbang dominasi negara dalam proses rancang bangun pembangunan. Trend demikian sudah jamak terjadi di berbagai belahan dunia, baik di Utara (negara-negara maju) maupun di Selatan (negara-negara berkembang). Namun, di negara maju LSM sudah memainkan agensinya dalam menetapkan kebijakan publik, oleh karena budaya demokrasi sudah maju, SDM yang mumpuni dan kemampuan finansial yang tersedia. Sedangkan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, LSM masih berjuang sebagai mitra pemerintah dalam proses pembanguan.

Sejarah keterlibatan LSM di Indonesia sudah bermula sejak tahun 1950-an. Namun, peran dan aktivitas yang dijalankan secara umum masih berkutat pada upaya-upaya karitatif, terutama menanggulangi kelaparan. Jadi, keberadaannya lebih sebagai “sinterklas”. Priode ini berlangsung hingga tahun 1960-an. Menurut penulis, meskipun masa sudah berubah, dewasa ini kita masih menemukan LSM yang lebih berfungsi sebagai sinterklas.

Tahun 1966 hingga 1970-an adalah formative years pertumbuhan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berjuang untuk keluar dari formasi sinterklas. LSM masa ini mulai mengembangkan sikap kritis terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan.Terdapat tiga argumen yang mendasari perkembangan ini. Pertama, munculnya inisiatif kalangan non-pemerintah untuk mendirikan organisasi-organisasi non-pemerintah berbasis komunitas. Beberapa organisasi non-pemerintah seperti LP3ES didirikan atas prakarsa tokoh-tokoh muda dari kalangan sipil. Kedua, pada fase ini mulai terjalin kontak yang intensif antara LSM lokal dan internasional sekaligus menandai dimulainya kerjasama dan pengembangan jaringan (networking) dengan mitra-mitra kerja di luar negeri. Ketiga, pemerintah mulai menyediakan perangkat hukum sebagai aturan main lembaga-lembaga non-pemerintah tersebut.[8]

Namun, fase ini ditandai dengan local resources yang terbatas. Kalangan LSM lebih banyak bergantung pada sumber-sumber pendanaan internasional, semisal USAID, The Ford Foundation, The Asia Foundation, Toyota Foundation, FNS, NOVIB dll. LSM juga menerima bantuan dana dari lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank. Selain berbentuk hibah (grant), dana yang diterima dari sumber terakhir ini sebagian bersifat utang negara.[9]

Sejak tahun 1970-an, kalangan LSM benar-benar menikmati “surga” aliran dana tersebut dengan mudah (easy money). Karenanya, mereka sering dituding menjadi perpanjangan tangan donor asing. Bahkan, ada asumsi bahwa LSM-LSM tersebut bekerja untuk mendukung agenda donor asing ketimbang menunaikan kepentingan domestik. LSM menjual kemiskinan, menjual negara, agen-agen kapitalis adalah di antara aneka tuduhan dari pihak pemerintah atau pihak-pihak yang merasa gerah dengan agenda LSM. Situasi ini tidak jarang merepotkan para aktivis LSM, terutama dalam menegosiasikan agenda-agenda sosial politik yang diperjuangkannya. Kesulitannya adalah bagaimana LSM meyakinkan pihak dalam negeri bahwa agenda mereka bebas dari campur tangan pihak asing.[10]

Di sini tidak ingin dikembangkan suatu perspektif bahwa kerjasama dengan pihak asing merupakan barang haram. Karena dalam dunia yang menglobal hubungan dan kerjasama dengan negara-negara sahabat di Barat sungguh tak terelakkan. Apalagi bila hubungan tersebut berlandaskan komitmen untuk menata dunia yang lebih adil, damai dan sejahtera. Ini juga mengingat sumberdana domestik tidak mencukupi untuk membiayai agenda-agenda pembangunan. Memperoleh dana pemerintah dalam jumlah besar sulit terwujud karena anggaran pemerintah yang terbatas. Selain itu, dana seperti ini beresiko mengkooptasi kemandirian LSM dalam mengadvokasi kebijakan publik.

Sementara itu, penggalangan dana dari perusahaan dalam negeri, atau lebih dikenal dengan istilah corporate social responsibility (CSR), juga problematik mengingat sebagian besar sektor swasta di Indonesia menyumbang kontribusi besar dalam mencipta problematika sosial serta merusak lingkungan alam. Pada masa Orde Baru, kalangan swasta, terutama perusahaan besar, seringkali bersekongkol dengan penguasa untuk menguras kekayaan alam serta memanfaatkan akses-akses ekonomi politik secara privilage demi kepentingan bisnis mereka. Salah satu ulah perusahaan besar adalah mengeksploitasi sumberdaya alam dan ekonomi secara illegal dan membabi buta sehingga menyebabkan Indonesia terjebak dalam krisis sosial dan kerusakan alam yang sangat parah. Demikianlah beberapa alasan mengapa organisasi non-pemerintah tidak tertarik menggalang dana dari sektor swasta.[11]

Pada pungkasan 1970-an hingga 1990-an, minyak bumi andalan Indonesia mengalami kerugian dan membumbungnya utang luar negeri yang sangat memprihatinkan tanah air. Bersamaan dengan itu, rejim Orde Baru yang otoriter membuat isu-isu dunia seperti lingkungan hidup, demokratisasi, gender dan HAM kuat berkumandang ke pelbagai sudut-sudut kehidupan. Dalam konteks ini, terjadi mushroomingLSM yang karakternya bertujuan melakukan transformasi sosial. Fase ini juga masih mengandalkan bantuan donor asing, yang mengakibatkan LSM menuai tudingan yang tidak sedap seperti telah disinggung di atas.

Salah satu problem yang menghinggapi LSM dewasa ini adalah keberlanjutan finansial (financial sustainability). Tidak saja berbagai LSM kecil yang menghayati kesulitan ekonomi, bahkan beberapa di antaranya berguguran, tetapi juga beberapa LSM besar yang diterpa kesulitan finansial mengalami kesulitan meneruskan agendanya. Misalnya, kita pernah dikejutkan dengan berita akan tutupnya Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) akibat kekurangan finansial. Kondisi itu tercipta setelah beberapa lembaga donor menghentikan aliran dananya. Di sini tidak akan dibahas kenapa dana asing itu distop, karena keterbatasan ruang.

Hasil penelitian Rustam Ibrahim pada tahun 2005 dengan mengambil sampel 25 organisasi, meskipun tidak semua sampel itu tergolong LSM, karena sebagiannya adalah OSMS, menjustifikasi fenomena itu. Mayoritas responden mengandalkan bantuan luar negeri yang mencapai 65 %, dan sumber dalam negeri 35 %.[12]

Sementara itu, beberapa tahun terakhir ada kecenderungan berkurangnya dana hibah akibat situasi dunia yang berubah sehingga ikut mengubah prioritas dan kebijakan lembaga donor. Saya pernah mendengar bahwa beberapa donor besar, seperti Ford Foundation mulai mengalihkan perhatiannya dari Indonesia secara perlahan, dan mendorong penggalangan local resources. Akibatnya, berbagai upaya untuk sintas (survive) sedang dan telah dilakukan oleh LSM dengan menggali local resources yang tersedia, baik dengan menggalang dana secara masif dari masyarakat maupun melalui unit-unit usaha yang digiatkan LSM.

Sejak pungkasan tahun 2000-an, terbit fenomena filantropi (kedermawanan) yang luar biasa di kalangan masyarakat. Pada saat negara mengalami kegagalan mensejahterakan warganya, ketika bencana alam datang bertalu-talu, animo masyarakat untuk berfilantropi atau berderma sangat kuat. Sayangnya, filantropi untuk tujuan-tujuan publik atau juga kepada LSM sangat terbatas.[13] Bahkan, beberapa Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang banyak meraup dana publik enggan untuk bermitra dengan LSM dalam menyalurkan filantropi untuk keadilan sosial.[14]

Penyimpangan-Penyimpangan Aktivisme LSM

Keberadaan LSM sebagai motor penggerak masyarakat sipil sering dimaknai negatif akibat perilaku beberapa LSM atau pengurus LSM itu sendiri. Kastorius Sinaga mencotohkan penggelapan dana JPS yang melibatkan sejumlah LSM tahun 2000; dugaan penyimpangan dana banjir oleh ICE on Indonesia tahun 2002; tuduhan kolusi antara PLN dengan salah seorang pengurus YLKI tahun 2001 telah mencoreng wajah LSM.[15]

Hasil observasi LP3ES beberapa waktu lalu di delapan Propinsi menunjukkan berbagai penyimpangan LSM. Paling tidak ada empat bentuk aktivisme LSM menyimpang ini. Pertama, LSM yang memiliki tautan yang kuat dengan lingkar kekuasaan, terutama dalam aktivitas dukung mendukung calon pejabat di berbagai level.

Kedua, LSM yang sengaja dibentuk untuk memperebutkan atau menampung proyek pemerintah (daerah). Kehadiran LSM ini untuk menyahuti peluang kebijakan berbagai negara-negara donor yang mensyaratkan peran serta masyarakat dalam proyek pembangunan. Umumnya LSM ini dibentuk atau melibatkan pegawai Pemda setempat bersama kroninya.

Ketiga, LSM yang bertujuan untuk meraih keuntungan ekonomi dengan berkedok LSM yang melakukan kegiatan investigasi, mengkritik dengan pendekatan wachtdog, namun ujung-ujungnya transaksi money politics digelar dibelakang layar. Keempat, ada kelompok yang mengidentikkan diri sebagai LSM, yang justru mengabsahkan tindak kekerasan dan anarkhi.[16]

Model Ideal Akuntabilitas Lembaga Swadaya Masyarakat

Memang harus diakui beberapa perilaku nakal LSM pada akhirnya hanya membuat bopeng wajah LSM secara umum. Namun, di sini pentingnya untuk tidak menggeneralisasi atau gebyah uyah bahwa semua LSM tidak akuntabel.

Implementasi akuntabilis LSM memang problematik di kalangan LSM. Menurut Greg Rooney, Civil Society Program Advisor ACCES, sedikit sekali perhatian yang didedikasikan untuk membentuk organisasi yang memiliki akuntabilitas dihadapan konstituennya. Bahkan, tidak banyak organisasi nirlaba yang berupaya meningkatkan prosedur operasional (baik SOP dan AD/ART) yang mengatur organisasinya. Bahkan, ada resistensi sejumlah LSM terutama yang menerima hibah donor asing untuk tidak melaporkan keuangannya secara transparan.[17]

Akuntabilitas LSM memang lebih ditujukan kepada donor secara langsung dengan cara membuat laporan akhir dan laporan keuangan. Donor tersebut yang akan melaporkan kepada publik. Namun, jika memperoleh dari pemerintah, maka LSM wajib melaporkannya kepada masyarakat.

Sejauh ini beberapa LSM juga telah melaporkan kegiatan dan keuangannya kepada donor dan kepada publik. Ada yang membuat laporan tahunannya secara reguler dan bisa diakses publik. Jadi, tidak benar sama sekali bahwa tidak ada akuntabilitas LSM. Sebab jika itu benar, maka para donor juga enggan menggelontorkan dana hibahnya.

Yayasan Interseksi, misalnya, mengembangkan akuntabilitas publik dengan cara mempublikasikan program risetnya melalui buku yang dapat dibeli di toko-toko buku. Bahkan, serpihan-sepihan sebuah program yang berjalan diberi ruang untuk dimuat di website. Ini juga mungkin suatu cara untuk menegaskan bahwa LSM bukanlah sarang “penyamun”, yang hanya sibuk mengkliping koran. Dalam kasus Interseksi, publikasinya menerima resepsi yang meriah. Misalnya buku Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di Indonesia, yang notabene hasil riset atas bantuan Yayasan Tifa, menjadi bahan ajar di Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

Beberapa tahun terakhir, LSM telah mulai melirik pemberlakuan kode etik dan akreditasi/sertifikasi. Aplikasi kode etik atau akreditasi bagi LSM akan ideal jika terbangun secara orisinil dari kalangan LSM sendiri, dan tidak harus bersifat monolitik. Apalagi jika diatur dengan perangkat hukum untuk membungkam LSM, yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah dan pro aktif mengadvokasi masyarakat terpinggirkan.

Tolok ukur yang seragam dan elitis harus dijauhi dan juga tidak mudah dicapai. Beberapa LSM sudah mengembangkan akuntabilitasnya. Upaya yang tengah digiatkan oleh KPMM di Padang dan Sawarung di Bandung, contohnya, sangat penting untuk disokong secara kolektif. Demikian juga, eksprimentasi LP3ES dalam merumuskan formula Kode Etik LSM di tingkat regional dan nasional harus juga didukung.

Sebagai kesimpulan singkat, mari kita bersikap adil terhadap LSM. Jangan memojokkan LSM hanya sebagai kedok untuk menutupi bopeng wajah sendiri atau manifestasi dari vested interest.


[1]Lusi Herlina, “Pengembangan Transparansi dan Akuntabilitas di KPMM, Sumbar”, dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa, 2004, h. 197[2]Zaim Saidi, “Lima Persoalan Mendasar dan Akuntabilitas LSM” dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa, 2004, h. 39

[3]Rustam Ibrahim dikutip dalam Hamid Abidin, “Transparansi dan Akuntabilitas LSM: Problem dan Ikhtiar”, dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa, 2004, h.62.

[4]Andi Faisal Bakti, “Good Governance dalam Islam: Gagasan dan Pengalaman, dalam buku Islam Negara dan Civil Society Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer, Jakarta: Paramadina, 2005, h. 332-334.

[5] Rustam Ibrahim Dkk. Governance dan Akuntabilitas LSM Indonesia. 2004.

[6] AS.Hikam. Civil Society. LP3ES.

[7] Ibid.

[8]Wawancara Ridwan al-Makassary dengan Andy Agung Prihatna, Peneliti LP3ES, di Jakarta awal Januari 2005. Wawancara ini ketika itu dilakukan untuk kepentingan penelitian riset ”Filantropi untuk Keadilan Sosial dalam Masyarakat Islam: Kasus Indonesia” CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

[9] Richard Holloway, Menuju Kemandirian Keuangan, Jakarta: Yayasan Obor, 2001

[10] Richard Holloway, Menuju Kemandirian Keuangan, Jakarta: Yayasan Obor, 2001, h. 17-18.

[11]Lihat, buku Sumbangan Sosial Perusahaan (penyunting Zaim Saidi dkk), Jakarta: PIRAC, 2003, h 23-24..

[12]Hamid Abidin, “Transparansi dan Akuntabilitas LSM: Problem dan Ikhtiar”, dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa, 2004, h. 66.

[13]Ridwan al-Makassary, “Pengarusutamaan Filantropi Islam untuk Keadilan Sosial di Indonesia: Proyek yang Belum Selesai” dalam Jurnal Galang, vol 1, No.3, April 2006, h. 38-49. Lihat juga buku-buku Filantropi yang diterbitkan oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan PIRAC. Keduanya beberapa tahun terakhir menggalakkan studi Filantropi untuk Keadilan Sosial (Philanthropy for Social Justice).

[14]Adi Chandra Utama, “Menyambung yang Terputus (Model Bagi Optimalisasi Potensi Kedermawanan Menuju Keadilan Sosial” dalam Jurnal Galang, vol 1, No.3, April 2006, h.5-21.

[15]Kastorius Sinaga, “Melembagakan Transparansi dan Kontrol LSM di Indonesia” dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa, 2004, h. 85

[16]Zaim Saidi, “Lima Persoalan Mendasar dan Akuntabilitas LSM” dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa, 2004, h. 39

[17]Hamid Abidin, “Transparansi dan Akuntabilitas LSM: Problem dan Ikhtiar”, dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa, 2004, h. 62.

Sumber: Interseksi.org.

Artikel Terkait:

  1. Akuntabilitas LSM, Kepentingan Siapa?
  2. Sumber Dana LSM
  3. Format Laporan Keuangan NGO
  4. Respon LSM Terhadap Tantangan Akuntabilitas: Pengalaman KPMM dan Komunitas LSM di Negara Lain
  5. LSM sebagai Sebuah Industri
  6. Mengungkap Gerakan Inteligence Asing
  7. Pewujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor Publik

Indahnya Cinta Alam Maya Pesona Rayu Memperdaya

bismillahirrahmanirrahiem
assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh..

Indahnya Cinta Alam Maya
Pesona Rayu Memperdaya

oleh: fatma elly

kau mentari bagiku, katanya..
menyapa dalam kehangatan
menerangi sukma jiwaku
di sepanjang hari perjalanan

ada lucu di sana
dalam canda kasih sayang
ada perhatian di situ
atas nama kebutuhan

ada kelembutan mempesona
dalam raupan kasih mendalam
terhadap cinta..
hatimu kau berikan…

ah… kau tahu…
meski tak bisa kupeluk dikau
dalam lingkup realitas..
bayang semu mayapun
masih dapat kutangkap
untuk bisa kuteguk
dan juga kuharap

pemabuk digelut haus
menggebu di atas rindu
debar dada mengharu biru
gelora ingin maunya padu
mengangan di atas khayal
dalam kira… andainya…

meluncur lewat hati
terpana pesona… dalam asyik masyuknya..

indahnya cinta alam maya…rayunya memperdaya…

dalam kemuliaan cahaya Rabbi…
Dia datang mengganti…
segala yang materi..
sirna dengan sendiri…
atas wujud-Nya yang hakiki…

di atas pengertian pemahaman..
dalam pengetahuan keimanan
setiap hakekat kentara jelasnya
di atas kulit…
dan juga isi

terlepaslah diri…
dari penjara…aniaya…
dan kebodohannya…cinta… alam maya…See More

PENDERITAAN SETELAH KEMATIAN

Ketika orang meninggal dunia, ia tidak lantas menempati peristirahatan terakhir. Ia hanya singgah untuk sementara waktu, meskipun persinggahan itu bisa lebih lama daripada ketika ia hidup di alam dunia. Itulah alam barzakh, alam kubur. Bahkan mungkin di sana, ia tidak sempat beristirahat sama sekali, meski hanya sekejap, sebab ia terus-menerus mendapatkan siksa.

Alam barzakh ini pasti dilalui oleh setiap insan, sebelum datangnya hari pengadilan besar yang siapapun tidak akan bisa lolos darinya. Hari ketika Allah datang untuk mengadili setiap manusia sesuai dengan yang pernah mereka kerjakan. Hari kiamat. Hari yang tidak pernah diharapkan kehadirannya oleh orang kafir, sebab mereka sudah mengetahui dan merasakan kedahsyatannya ketika mengalami siksa hebat di kuburnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menceritakan keadaan di alam kubur ini. Bahkan Beliau banyak menceritakan tentang siksa yang ditimpakan kepada orang-orang muslim yang bermaksiat.

Beliau pernah menceritakan siksa kubur yang di alami oleh dua orang. Yang satu disebabkan oleh namimah (menghasut dan adu domba). Sedangkan yang lain disebabkan oleh kencing yang tidak bersih.

مَرَّ الَّنبِيُّ صلي الله عليه وسلم عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيْرٍ. ثُمَّ قَالَ : بَلَى، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيْمَةِ، وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَيَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ…الحـديث – متفق عليه
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda,”Sesungguhnya keduanya benar-benar sedang di azab. Dan keduanya tidak diazab dalam masalah besar,” kemudian Beliau bersabda: “Ya. Adapun salah seorang di antara mereka, dikarenakan ia berjalan dengan menebarkan namimah (adu domba). Sedangkan yang satunya lagi karena tidak menjaga diri dari kencingnya… [Al Hadits].[HR Al Bukhari, Kitab Al Jana-iz, bab Azab Al Qobri min Al Ghibah wa Al Baul, no. 1378. Juga bab Al Jaridah ‘Ala Al Qobri, no.1361 –Fathul Bari (III/232 dan 222-223) dan Muslim Kita bath-Thaharah, bab Ad Dalil ‘Ala Najasati Al Baul wa Wujub Al Istibra’ minhu Syarh Nawawi (III/191 no. 675)]

Suatu hari, setelah shalat subuh, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepada para sahabatnya tentang siksa dahsyat yang dialami di kuburnya, yaitu orang yang melalaikan shalat fardhu, orang yang suka berdusta, para pezina dan pemakan riba. Siksa itu terus menerus dialami hingga hari Kiamat. Wal-’iyadzu billah.

Kisahnya dibawakan oleh Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu. [Lihat kisah selengkapnya dalam riwayat Imam Bukhari di Shahih-nya, Kitab At Ta’bir, bab Ta’bir Ar Ru’ya Ba’da Shalat Ash Shubhi, no. 7.048 – Fathul Bari (XII/438) dan seterusnya. Kisah itu juga dibawakan oleh Jarir bim Hazim z dalam Kitab Al Jana-iz, bab 93 no. 1386 – Fathul Bari (III/251-252)].

Ia berkata: Di antara yang sering dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya ialah :

“Adakah seseorang di antara kalian melihat sesuatu dalam tidurnya?” Lalu Beliau menceritakan apa saja yang Beliau lihat (dalam tidurnya) sebagaimana yang dikehendaki Allah. Pada suatu pagi (dalam riwayat lain: seusai shalat Subuh), (HR Muslim), dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, Syarh Nawawi (XV/36-37, no. 5896) Beliau bersabda kepada kami :

إِنَّهُ أتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي، وَإِنَّهُمَا قَالاَ لِي: اِنْطَلِقْ. وَإِنِّي انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا. وَإِنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ، وَإِذَاهُوَ يَهْوِى بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ فَيَثْلَغُ رَأْسَهُ، فَيَتَدَهْدَهُ الْحَجَرُ هَا هُنَا، فَيَتْبَعُ الْجَحَرَ فَيَأْخُذُهُ فَلاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُوْدُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلَ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِهِ الْمَرَّةَ الأُوْلَى. قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا : سُبْحَانَ الله، مَا هَذَانِ؟ قَالَ: قَالاَ لِي : اِنْطَلِقْ اِنْطَلِقْ.
“Sesungguhnya malam tadi telah datang kepadaku dua malaikat. (Dalam mimpi) keduanya membangunkanku. Lalu keduanya berkata kepadaku: “Berangkatlah!” Lalu aku berangkat bersama keduanya. Kami mendatangi seseorang yang terbaring. Ternyata ada orang lain yang berdiri di atasnya sambil membawa sebongkah batu. Tiba-tiba orang ini menjatuhkan batu itu ke kepala orang yang terbaring tersebut hingga memecahkan kepalanya. Lalu batu itu menggelinding ke arah sini (ke arah orang yang menjatuhkan batu), maka iapun mengikuti batu itu lalu mengambilnya. Namun ia tidak segera kembali menjatuhkan batu itu ke kepala orang yang terbaring hingga kepala orang tersebut kembali utuh seperti sedia kala. (Ketika kepala orang itu kembali utuh) ia ulangi perbuatannya atas orang yang terbaring itu seperti pada kali pertama.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku bertanya kepada keduanya,’Subhanallah, mengapa dua orang ini?’.” Keduanya berkata kepadaku : “Berangkat lagi, berangkat lagi!”

فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوِبٍ مِنْ حَدِيْدٍ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِي أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمِنْخَرَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ. (قَالَ : وَرُبَّمَا قَالَ أبو رَجَاء: فَيَشُقُّ). قَالَ: ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الْجَانِبِ الآخَرِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بالجَانِبِ الأَوَّلِ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الْجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الْجَانِبُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُوْدُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلَ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُوْلَى. قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا : سُبْحَانَ الله، مَا هَذَانِ؟ قَالَ: قَالاَ لِي : اِنْطَلِقْ اِنْطَلِقْ.
“Kemudian kami berangkat lagi. Kami mendatangi orang yang terlentang pada tengkuknya. Ternyata ada orang lain yang berdiri di atasnya sambil membawa kait (yang terbuat) dari besi. Tiba-tiba ia datangi sebelah wajah orang yang terlentang itu, lalu ia robek (dengan kait besi tersebut) mulai dari sebelah mulutnya hingga tengkuknya, mulai dari lubang hidungnya hingga tengkuknya, dan mulai dari matanya hingga tengkuknya. (Perawi berkata: Barangkali Abu Raja –salah seorang sanad hadits ini- mengungkapkannya dengan lafadz “yasyuqqu” (merobek), bukan dengan lafadz “yusyarsyiru”).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda: “Selanjutnya orang itu berpindah ke sebelah wajah lainnya dari orang yang terlentang tersebut dan melakukan seperti yang dilakukannya pada sisi wajah yang satunya. Belum selesai ia berbuat terhadap sisi wajah yang lain itu, sisi wajah pertama sudah sehat kembali seperti sedia kala. Maka ia mengulangi perbuatannya, ia lakukan seperti yang dilakukannya pada kali pertama.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku bertanya kepada kedua malaikat yang menyertaiku itu,’Subhanallah, mengapa dua orang ini?’.” Keduanya berkata kepadaku: “Berangkat lagi, berangkat lagi!”

فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ الَّتنُّوْرِ، قَالَ : وَأَحْسِبُ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ : فَإِذَا فِيْهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ. قَالَ: فَاطَّـلَعْـنَا فِيْهِ، فَإِذَا فِيْهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ، وَإِذَا هُمْ يَأْتِيْهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ، فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا. قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا : مَا هَؤُلاَءِ ؟ قَالَ : قَالاَ لِي : اِنْطَلِقْ اِنْطَلِقْ.
“Kami berangkat lagi. Lalu kami mendatangi sesuatu yang (bentuknya) seperti tempat pembakaran (oven). (Perawi berkata: Saya memperkirakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Ternyata di dalamnya ada hiruk pikuk teriakan dan suara-suara.”) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka kami menjenguk ke dalamnya. Ternyata di dalamnya ada kaum laki-laki dan kaum perempuan yang semuanya bertelanjang bulat. Tiba-tiba mereka diterpa jilatan api yang datang dari sebelah bawah mereka. Ketika jilatan api itu datang menerpa, mereka berteriak-teriak.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku bertanya kepada dua malaikat yang menyertaiku,’Siapakah mereka itu?’.” Keduanya berkata kepadaku: “Berangkat lagi, berangkat lagi!”

قال: فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى نَهْرٍ حَسِبْتُ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: أَحْمَر مِثْلِ الدَّمِ. وَإِذَا فِى النَّهْرِ رَجُلٌ سَابِحٌ يَسْبَحُ ، وَإِذَا عَلَى شَطِّ النَّهْرِ رَجُلٌ قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ حِجَارَةً كَثِيْرَةً. وَإِذَا ذَلِكَ السَّابِحُ يَسْبَحُ مَا يَسْبَحَ، ثُمَّ يَأْتِي ذَلِكَ الَّذِى قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ الْحِجَارَةَ فَيَفْغَرُ لَهُ فَاهُ فَيُلْقِمَهُ حَجَرًا، فَيَنْطَلِقُ يَسْبَحُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِ، كُلَّمَا رَجَعَ إِلَيْهِ فَغَرَ لَهُ فَاهُ فَأَلْقَمَهُ حَجَرًا. قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا : مَا هَذَانِ؟ قََالَ : قَالاَ لِي : اِنْطَلِقْ اِنْطَلِقْ….
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi: “Maka kami pun berangkat. Lalu kami mendatangi sebuah sungai (Perawi berkata: Aku memperkirakan Beliau bersabda,”Berwarna merah seperti darah.”) Ternyata di sungai itu ada seseorang yang sedang berenang. Sementara di tepi sungai ada seseorang yang mengumpulkan batu-batu yang banyak. Tiba-tiba, ketika orang itu tengah berenang, ia datang (menepi) menuju orang yang mengumpulkan batu. Pengumpul batu itu membuka mulut orang yang tengah berenang lalu menjejalkan batu-batu itu ke mulutnya. Kemudian ia berenang kembali, lalu kembali lagi kepada pengumpul batu. Maka pengumpul batu itupun membuka mulut orang tersebut dan menjejalkan batu ke mulutnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku bertanya kepada dua malaikat yang menyertaiku,’Siapakah dua orang ini?’.” Keduanya berkata kepadaku: “Berangkat lagi, berangkat lagi…!” Dan seterusnya…sampai akhirnya …

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku berkata kepada keduanya,’Malam ini aku benar-benar melihat hal-hal yang menakjubkan. Apa arti hal-hal yang aku lihat?’ Keduanya menjawab: Akan aku ceritakan kepadamu.

أَمِّا الرَّجُلُ الأَوَّلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالحَجَرِ فَإِنَّهُ الَّرجُلُ يَأْخُذُ بِالْقُرْآنِ (وفى رواية: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ اْلقُرْآنَ) فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ (وفى رواية: يُفْعَلُ بِهِ إِلَى َيوْمِ الْقِيَامَةِ). وَ أَمِّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمِنْخَرُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُوْ مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذِبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ (فى رواية : فَيَصْنَعُ بِهِ مَا رَأَيْتَ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ). وَأَمَّا الِّرجَاُل وَالنِّسَاءُ الْعُرَاةُ الَّذِيْنَ فِى مِثْلِ الَّتنُّوْرِ فَهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي. وَ أَمِّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يَسْبَحُ فِى النَّهْرِ وَ يُلْقَمُ الْحَجَرَ فَإِنَّهُ آكِلُ الرِّبَا…إلى آخر الحديث. أخرجه البخاري
Adapun orang pertama yang engkau datangi dan kepalanya dipecahkan dengan batu, ialah orang yang faham Al Qur’an, namun kemudian ia meninggalkan (ketentuan)nya dan tidur melalaikan shalat wajib. (Dalam riwayat lain: Orang itu diperlakukan demikian hingga hari kiamat.) [Lihat Shahih Bukhari bersama Fathul Bari (III/251-252 hadits no. 1386), Kitab Al Jana-iz, bab 93.]

Sedangkan orang yang engkau datangi, disobek ujung mulut hingga tengkuknya, lobang hidung hinga tengkuknya dan mata hingga tengkuknya, ialah orang yang sejak pagi-pagi keluar rumahnya, lalu melakukan kedustaan-kedustaan hingga mencapai kaki-kaki langit. (Dalam riwayat lain: Orang ini terus diperlakukan demikian seperti yang engkau lihat hingga hari kiamat) [Lihat Shahih Bukhari bersama Fathul Bari (III/251-252 hadits no. 1386), Kitab Al Jana-iz, bab 93.]

Sedangkan kaum laki-laki serta kaum wanita yang sama-sama telanjang bulat di suatu tempat yang mirip tempat pembakaran (oven) adalah para pezina.

Orang yang engkau datangi tengah berenang di suatu sungai sambil dijejali batu mulutnya adalah pemakan riba.

Orang yang yang sangat buruk rupa, berada di api yang ia kobarkan dan ia berkeliling di seputar api itu adalah Malaikat Malik, penjaga api Jahanam.

Sedangkan orang tinggi yang berada di dalam taman adalah Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Adapun anak-anak yang ada di sekitar Ibrahim adalah setiap anak yang mati dalam keadaan fitrah. Sebagian kaum Muslimin berkata: “Wahai, Rasulullah. Apakah juga anak-anaknya orang-orang musyrik?” Beliau menjawab,”Ya, juga anak-anaknya orang-orang musyrik.”

Sedangkan orang-orang yang separoh fisiknya indah dan separohnya lagi buruk, ialah orang-orang yang mencampurkan amal shalih dengan amal jelek, tetapi Allah mengampuni kejelekan mereka. (Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dua malaikat yang menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Jibril dan Mikail).

[Lihat Shahih Bukhari bersama Fathul Bari (III/252 hadits no. 1386), Kitab Al Jana-iz, bab 93.]

Demikianlah beberapa kisah tentang siksa kubur yang dialami sebagian ahli maksiat. Sangat mengerikan. Apalagi siksa kubur yang dialami orang-orang kafir serta munafik. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوْحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَى إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآأَنزَلَ اللهُ وَلَوْتَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلاَئِكَةُ بَاسِطُوا أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ {93}
“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan.”
[Al An’am : 93]

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, dalam Fathul Bari membawakan riwayat Ath Thabrani dan Ibnu Abi Hatim, melalui jalan Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menjelaskan makna ayat di atas:

“Itu terjadi ketika seseorang sedang dalam kematian. Arti al basthu ((والملائكة باسطوا أيديهم ialah memukul. Para malaikat memukul wajah orang-orang itu dan memukul pantat-pantat mereka.”

Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan:

“Hal ini, meskipun terjadi sebelum dikubur, namun ia termasuk azab yang terjadi sebelum hari Kiamat, kemudian dikaitkan dengan azab kubur. Sebab, umumnya azab semacam itu terjadi di alam kubur, dan juga orang-orang yang telah mati umumnya dikuburkan. Kalaulah tidak dikuburkan, maka orang kafir maupun orang maksiat yang dikehendaki Allah mendapat siksa, akan tetap disiksa meskipun belum dikuburkan. Tetapi makhluk lain tidak bisa melihat kejadian itu, kecuali yang dikehendaki Allah.” [Lihat Fathul Bari (XIII/233).]

وَمِمَّنْ حَوْلَكُم مِّنَ اْلأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لاَتَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ {101}
“Nanti Kami akan siksa mereka dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” [At Taubah:101]

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah membawakan riwayat Ath Thabari, Ibnu Abi Hatim dan Ath Thabrani dalam Al Ausath, dari jalan As Sudi, dari Abu Malik, dari Ibnu Abbas. Ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari Jum’at. Beliau bersabda :

’Keluarlah engkau wahai Fulan. Sesungguhnya engkau adalah orang munafik’.” Kemudian menyebutkan haditsnya. Di dalamnya terdapat bunyi hadits (artinya): ‘Maka Allah membongkar kedok orang-orang munafik’. Inilah azab yang pertama. Adapun azab yang kedua ialah azab kubur. ‘ [Lihat Fathul Bari (XIII/233).]

وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوْءُ الْعَذَابِ. النَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا. وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوْا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat, dikatakan kepada malaikat: “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” [Ghafir: 45-46]

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah membawakan keterangan, di antaranya dari Al Qurthubi yang mengatakan:

“Menurut jumhur (mayoritas ulama), dinampakkannya neraka kepada Fir’aun dan kaumnya (pada ayat diatas) ialah di alam barzakh. Ini merupakan bukti tentang penetapan adanya azab kubur.” [Lihat Fathul Bari (XIII/233).]

Imam Bukhari memaparkan ayat-ayat di atas sebagai bukti tentang adanya azab kubur. Beliau menjadikannya sebagai rangkaian judul bab. [Lihat Kitab Al Jana-iz, bab Maa Jaa-a Fi ‘Azaab Al Qobri wa Qaulihi Ta’ala (QS Al An’am : 93, At Taubah : 101, Ghafir : 45). Fathul Bari (III/231) dan seterusnya.]

Sementara itu dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh Qatadah pada penggalan kedua, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَمَّا الْمُنَافِقُ وَالْكَافِرُ فَيُقَالُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُوْلَ : لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُوْلُ مَا يَقُوْلُ النَّاسُ. فَيُقَالُ: لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ. وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيْدٍ ضَرْبَةً، فَيَصِيْحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيْهِ غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ. أخرجه البخاري في صحيحه رقم : 1374
“Adapun orang munafik dan kafir, akan ditanyakan kepadanya: “Apa yang engkau katakan tentang orang (yang diutus oleh Allah) ini?” Ia menjawab: “Tidak tahu. Dahulu aku pernah mengatakan apa yang dikatakan orang.” Maka dikatakanlah kepadanya: “Engkau tidak memahami apapun dan tidak membaca (mengikuti) Al Qur’an”. Orang itu kemudian dipukul keras dengan palu dari besi. Menjeritlah ia dengan satu jeritan yang didengar oleh semua yang berada di sekitarnya, kecuali jin dan manusia.” [HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, no. 1374 penggalan kedua. Fathul Bari (III/231-232), Abu Dawud, Kitab As Sunnah, bab Fi Al Mas’alah Fi Al Qobri wa ‘Azab Al Qobri, no. 4751 penggalan kedua dan An Nasa-i, Kitab Al Jana-iz, bab Mas’alati Al Kafir, no. 2050 penggalan kedua.]

Dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib yang panjang, pada bagian kedua, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lain-lain [Hadits shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Ahkam Al Jana-iz, hlm. 159, juga dalam Shahih Sunan Abi Dawud, Kitab As Sunnah, bab Fi Al Mas’alah Fi Al Qabri wa ‘Azab Al Qabri, no. 4753] disebutkan tentang didatangkannya panas dan racun api neraka kepada orang ini. Disamping itu, kuburnya juga disempitkan hingga menghimpit dan meremuk- redamkan tulang-belulangnya. Lalu amal perbuatan buruknya datang kepadanya dengan menjelma sebagai orang yang buruk rupa. Dan masih banyak hadits-hadits lain.

Adapun orang-orang mukmin, mereka akan mendapat kenikmatan di alam kubur seperti disebutkan dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu tersebut pada bagian pertama.

Juga disebutkan misalnya, dalam hadits Anas bin Malik yang dibawakan oleh Qatadah pada bagian pertama. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنََ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ – وَإِنَّهُ لَسَمِيْعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ- أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ : مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ لِمُحَمَّدٍ صلي الله عليه وسلم. فَأَمَّاالمُؤْمِنُ فَيَقُوْلَ : أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. فَيُقَالُ: اُنْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ، فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا. أخرجه البخاري في صحيحه رقم : 1374
“Sesungguhnya, ketika seorang hamba sudah diletakkan di kuburnya, sedangkan para pengantarnya sudah pergi dan ia pasti mendengar suara sandal-sandal mereka, datanglah kepadanya dua malaikat. Dua malaikat itu mendudukkan orang tersebut seraya bertanya: “Apa yang engkau katakan tentang orang ini?” Yakni tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Adapun orang mukmin, akan menjawab: “Saya bersaksi bahwa dia adalah hamba dan utusan Allah.” Maka dikatakanlah kepada hamba mukmin tersebut: “Lihatlah tempat dudukmu yang dari neraka, telah Allah gantikan untukmu dengan tempat duduk dari syurga”. Maka diapun melihat kedua-duanya.” [HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, no. 1374 penggalan pertama; Fathul Bari (III/231-232); Muslim, Kitab Al Jannah wa Shifah Na’imiha wa Ahliha, bab ‘Ardhi Maq’adi Al Mayyit min Al Jannah au An Naar ‘Alaihi, no.7145; Abu Dawud, Kitab As Sunnah, bab Fi Al Mas’alah Fi Al Qabri wa ‘Azab Al Qabri, no. 4751; dan An Nasa-i, Kitab Al Jana-iz, bab Al Mas’alah Fi Al Qabri, no. 2049 serta bab Mas’alati Al Kafir, no. 2050.]

Dan masih banyak hadits-hadits lainnya.

Jadi, nikmat atau siksa kubur merupakan perkara pasti. Tidak ada seorangpun yang boleh mengingkarinya. Baik Al Qur’an maupun hadits-hadits yang shahih telah menetapkannya. Atas dasar itu, para ulama Ahlu Sunnah pun telah menyepakati adanya.

BEBERAPA PERNYATAAN ULAMA TENTANG SIKSA KUBUR

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

“Ketahuilah! Sesungguhnya madzhab Salafush Shalih beserta para imamnya ialah, apabila seseorang telah meninggal dunia, maka ia berada dalam nikmat atau azab (kubur). Itu dirasakan oleh ruh dan jasadnya. Sesudah ruh berpisah dengan badan, maka ruh tetap mendapat nikmat atau azab. Tetapi kadang-kadang ruh berhubungan dengan badan, sehingga badan bisa merasakan nikmat atau azab bersama-sama dengan ruh (di alam kubur). Kemudian, apabila kelak terjadi hari Kiamat besar, ruh-ruh akan dikembalikan ke jasad masing-masing dan mereka akan bangkit dari kubur-kuburnya menuju Rabbul ‘alamin.” [Majmu’ Fatawa Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah (IV/284)]

Imam Nawawi rahimahullah (wafat 676 H.) berkata:

“Ketahuilah, sesungguhnya madzhab Ahlu Sunnah ialah menetapkan adanya azab kubur. Banyak dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah yang menunjukkan hal demikian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

النَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا…الآية
“Kepada mereka (Fir’aun dan kaumnya) dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” [Ghafir: 45-46]

Juga banyak hadits-hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui riwayat sejumlah jama’ah sahabat yang menunjukkan hal itu di berbagai tempat. Menurut akalpun, tidak mustahil Allah mengembalikan kehidupan (hanya) pada sebagian jasad, kemudian Dia menyiksanya. Apabila akal tidak menolak kemungkinan itu, padahal sudah ada syari’at yang menjelaskannya, maka adanya azab kubur wajib diterima dan wajib diyakini. Imam Muslim di sini (di dalam Shahih Muslim) telah menyebutkan banyak hadits yang menetapkan adanya azab kubur.

Selanjutnya, (secara ringkas) Imam Nawawi berkata:

“Maksudnya, madzhab Ahlu Sunnah ialah menetapkan adanya azab kubur. Berbeda dengan prinsip Khawarij, sebagian besar Mu’tazilah dan sebagian Murji’ah. Mereka menolak adanya azab kubur.” [Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi (XVII/197-198)]

Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Al Hanafi (wafat 321 H) juga berkata:

“(Dan kami beriman) dengan adanya azab kubur bagi orang yang layak mendapatkannya. Juga (beriman) dengan adanya pertanyaan Munkar dan Nakir di dalam kuburnya tentang Rabb, agama dan nabinya, sesuai dengan khabar-khabar yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum. Alam kubur adalah satu taman di antara taman-taman syurga, atau satu liang di antara liang-liang neraka.” [Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, Bayan Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hlm. 25-26, no. 103 & 104]

Imam Ibnu Abi Al ‘Izz Al Hanafi rahimahullah (wafat 792 H) menjelaskan perkataan Imam Ath Thahawi di atas dengan memaparkan banyak dalil dari Al Qur’an maupun Sunnah, serta kesepakatan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tentang adanya azab kubur. [Lihat Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah. Tahqiq, ta’liq dan takhrij Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki & Syu’aib Al Arna’uth, hlm. 572 dan seterusnya]

Karena itu, hendaknya manusia berhati-hati dalam mengarungi kehidupan dunia. Tiada keselamatan tanpa mentauhidkan Allah, tanpa taat kepadaNya dan taat kepada RasulNya. Tauhid perlu dijaga kemurniannya. Al Qur’an serta Sunnah (ajaran) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus dilaksanakan. Shalat fardhu harus dipelihara tepat waktu. Kejujuran wajib dijaga. Begitu pula segala ketaatan lain, baik lahir maupun batin. Bid’ah mesti disingkirkan. Perkataan keji, dusta, adu domba maupun ghibah (menyebar gossip) harus ditinggalkan. Perzinaan dengan segala rangkaian dan celahnya wajib dijauhi. Riba wajib dihindarkan. Begitu pula segala kemaksiatan lain.

Mari merenung, kita hanya mendamba kebahagiaan dan bukan derita di hari sesudah kematian kelak!

Wallahu Al Musta’an.

al Faqiir ilallaah
A.F.

7 Kiat Hidup Tenang Dalam Islam

Posted: 18 Mar 2011 01:31 AM PDT

 

1. Memahami Tujuan Hidup

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, semua aktifitas kehidupan kita di dunia ini dalam rangka beribadah kepada Allah. ” Wamaa khalaqtul jinna wal insaa illa liya’ buduun..”

ibaratnya seseorang itu keluar dari rumah mau pergi kemana, bila ada tujuannya ketika ia ditanya, bisa menjawab. misalnya mau ke toko beli susu.  Kalau ia keluar rumah tanpa tujuan, ketika ditanya, ia akan bingung…” kemana..ya..?”

jadi tujuan hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala.

 

2. Memahami Nilai Dunia dan Nilai Akhirat

Ada beberapa tipe orang dalam memandang nilai dunia dan nilai akhirat, antara lain:

a. Mengejar Dunia saja ( Nilai dunia lebih dari akhirat). Mungkin ini fenomena kehidupan orang kebanyakan, yang sudah hampir meninggalkan agama dan banyak yang tidak beragama. Hanya mengejar kesuksesan duniawi saja dan sudah tidak percaya dengan kehidupan akhirat nanti. Kadang uang dipandangnya sebagai tuhan.

 

b. Mengejar Akhirat saja. Sebagai contoh Sufi jaman dulu, sehari hari hanya untuk beribadah/hablu minallah, padahal manusia dituntut untuk hablu minannas, dan manusia harus memenuhi kebutuhan kemanusiaannya, seperti  makan ,minum , bekerja, menikah, berkeluarga, bermasyarakat  dan lain sebagainya.

 

Rasulullah bahkan melarang sahabatnya yang puasa tidak berbuka, qiyamul lail tidak tidur dan membujang tidak menikah. Rasulullah utusan Allah yang sudah pasti dijamin masuk surga pun melakukan hal yang bersifat kemanusiaan.

 

c. Tidak mengejar dunia maupun harapan akhirat.  Orang yang tipe seperti ini sangatlah tidak beruntung. didunia sengsara, akhirat pun terlupakan. Masih banyak tipe seperti ini di tanah air kita, yang data penduduknya terbanyak beragama islam. Adalah orang miskin yang kufur. Ia tetap dalam belenggu kemiskinan tapi tidak berusaha memperbaiki ibadahnya,tapi berteman dengan kekufuran.

 

d. Memandang dunia sebagai ladang amal dan akhirat sebagai tempat menuai hasil. Orang yang hidup di dunianya selalu beramal kebajikan, menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.

 

Jadi untuk hidup tenang di dunia kita fahami bahwa dunia adalah ladang amal, dan  di akhirat nanti kita akan menuai hasil.

 

3. Syukur dan Sabar.

Jika kita selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepada kita, insyaAllah akan Allah tambahkan selalu kenikmatan. ” lain syakartum la aziidanakum wa la inkafartum inna adza bi lasyadid “

 

kita bersyukur dengan yang ada pada kita, jangan berkeluh kesah dengan yang tidak ada pada kita. Misalnya kita kurang dari segi ekonomi, anak 3 tapi kendaraan hanya sepeda motor, tiba-tiba bertemu dengan kawan lama yang datang berkendaraan mobil kijang, tapi belum dikaruniai keturunan. Maukah satu anak ditukar dengan mobil kijang…??

 

Dan sabar adalah satu hal yang sangat mudah diucapkan dan dinasihatkan tetapi sangat sulit dilakukan. contoh: orang yang tertimpa musibah, pastilah harus bersabar dan selalu mendapatkan nasihat dari orang-orang disekelilingnya agar bersabar.

 

semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar. Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar.

 

4, Tawakal sesudah Ikhtiar

Al Qur’an. Surah Al Maidah : 23, Orang yang beriman itu harus bertawakal kepada Allah, setelah ia berikhtiar/berusaha. Tidak membenci Allah bila usaha kita( apa yg kita kerjakan/lakukan/usahakan) hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita.

 

5. Memahami Takdir dengan Benar

Memahami takdir itu bukan hanya pasrah dan menyerah tanpa usaha. Jaman dahulau khalifah Umar bin Khaththab, pernah kan memasuki sebuah kampung dan melihat ada ‘endemi’ (penyakit menular) kemudian mengurungkan niatnya untuk masuk ke kampung tersebut. Umar mendapat kritikan dari seseorang bahwa umar tidak boleh lari dari takdir. Kata Umar, “Aku lari dari takdir ke takdir yang lain”

 

6. Menjaga Keseimbangan, antara ruhani, akal dan jasmani.

Tawazun ( keseimbangan) baik manusia sebagai makhluk individu  dan makhluk sosial, yang ada dalam diri manusia itu ada 3 unsur adalah jasad, akal dan ruh. Dimana 3 unsur ini harus diberi asupan yang seimbang. Jasad diberi makan yang halal dan baik. Akal selalu diasah dengan ilmu dan pengetahuan. Ruh pun harus senantiasa disiram agar senantiasa bersinar cemerlang, hati yang selalu bisa menerima kebenaran yang datang dari Allah Subhanawata’ala.

 

7. Pandangan terhadap Harta

Dalam islam harta adalah milik Allah. Harta bukan hanya untuk hidup tapi juga sebagai alat untuk beribadah kepada Allah.

 

Ada nasihat, “peganglah harta dengan tanganmu, jangan kau masukkan harta di hatimu”. Ketahuilah nanti di akhirat manusia akan ditanya, dari manakah hartanya didapatkan dan  untuk apakah hartanya dibelanjakan.

 

—————————————————————————————–

Semoga bermanfaat buat pribadiku dan siapa saja yang membaca ringkasan ini.

 

Yaa ayyuhannafsul muthmainnah. ‘Irji ‘ii ilaa Rabbiki raadhiyatanmmardliyyah.  fadkhulii fii ‘ibaadi . wad khulii jannatii “

 

“wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan di ridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surga Ku” Quran Surah Al Fajr: 27-30